Kebiasaan Swafoto yang Kelewat Batas

2 min read

Indonesia masih berkabung karena baru saja kehilangan salah satu tokoh berpengaruh bagi negeri ini. B.J. Habibie berpulang lantaran gagal jantung yang menyerangnya. Faktor degenaratif membuat tubuh Presiden ke-3 RI ini mengalami penurunan fungsi.

Kepergian tokoh yang berperan memajukan dunia kedirgantaraan Indonesia ini cukup menjadikan pukulan yang menyedihkan bagi kita. Peninggalan presiden yang menjabat hanya dalam 517 hari ini  memberi arti penting bagi negara dan warganya. Seperti UU Pers yang berlaku hingga sekarang. Warisan beliau yang tidak kalah fenomenalnya adalah teori keretakan yang berguna bagi pengoperasian sebuah pesawat.

Tak hanya jenius dalam menghasilkan pemikiran penting bagi bangsa, ada hal lain yang bisa kita teladani dari mendiang yang meninggal pada usia 83 tahun ini. Kisah cinta B.J. Habibie dengan almarhumah istrinya, Hasri Ainun Besari, juga berhasil membius khalayak ramai. Romansa cinta mereka menjadi inspirasi banyak pasangan dan jadi idaman dan impian bagi muda-mudi dalam memilih tambatan hati. Cerita keduanya sempat diangkat dalam beberapa film, yang meledak di pasaran salah satunya yang dibintangi Reza Rahardian dan Bunga Citra Lestari.

Nasionalisme Habibie juga tak usah dipertanyakan lagi. Bagaimana beliau tetap kukuh ingin kembali mengabdi ke Indonesia dan mengamalkan segala ilmunya demi kemajuan bangsa. Padahal, ia telah mendapatkan kenyamanan hidup dan penerimaan yang luar biasa di Jerman.

Banyak sekali yang ditinggalkan oleh Habibie. Makanya, ketika terdengar berita yang menyatakan beliau tutup usia, merupakan luka yang mendalam bagi negara ini. Namanya dielukan oleh segala penjuru. Setiap elemen masyarakat masih merasa tak percaya kalau kabar tersebut benar adanya. Mendiang Habibie mendapat tempat khusus di benak kita. Makanya, banyak yang ingin mengantar beliau ke peristirahatan terakhir di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata. Bahkan para pengemudi yang mengetahui ambulans yang membawa jenazah beliau sedang melintas, langsung kompak menghentikan kendaraannya. Memberikan penghormatan terakhir kepada tokoh yang jasanya tak terkira ini.

Kediaman beliau di kawasan Patra Kuningan juga dipenuhi pelayat yang tumpah ruah. Kondisi ini juga hampir sama dan bisa kita saksikan ketika beliau akan dimakamkan. Masyarakat tumpah ruah memenuhi lokasi penguburan yang bersandingan dengan pusara Ibu Negara, Ainun Habibie.

Sayangnya, dalam kondisi berduka ini, tampak pemandangan yang miris. Sekelompok ibu-ibu justru asyik berswafoto dengan latar nisan Habibie. Mereka justru tidak menunjukkan rona kesedihan tapi malah sibuk berpose. Kawan saya, seorang pewarta dari media daring nasional, tak tinggal diam. Ia dan rekannya sudah begitu resah dengan kelakuan para ibu. Akhirnya, ditegurlah sang ibu dan kelompoknya.

Bahkan teman saya sampai berseloroh mengatakan bahwa seharusnya datang ke makam itu untuk mendoakan bukan malah berlomba swafoto. Tebak bagaimana respons ibu-ibu itu mendengar peringatan teman saya. Ibu tersebut justru membela diri dan membalasnya begini: mereka sudah melayangkan doa sehari sebelumnya. Jawaban itu dilemparkan sambil terus mengambil gambar. Sungguh membuat kawan saya makin jengkel. Naik pitam yang harus ditahan agar suasana duka tidak terkotori dengan pertikaian yang bisa dicegah.

Fenomena selfie yang tidak pada tempatnya bukan kali ini terjadi. Sudah sering kejadian seperti itu terpublikasikan di media sosial ataupun media massa. Sudah berkali-kali jadi sorotan tidak menjadikan kebiasaan tersebut terhenti. Malah kesannya terus berulang.

Misalnya kita pernah mengetahui pemberitaan tentang sekelompok warga yang mengerumuni lokasi pengungsiaan bencana. Lalu, mereka justru sigap berswa foto dengan latar ramainya pengungsi berwajah melas. Sungguh apakah ini cerminan nyata dari ungkapan, bersenang-senang di atas penderitaan orang?

Datang dan masuk ke area tenda penampungan sementara, mestinya dilandasi niat untuk menolong secara ikhlas. Jika memang ingin berfoto sebagai bukti dokumentasi penyaluran donasi untuk pertanggungjawaban ke pihak yang memberikan santunan, ada baiknya minta izin ke penjaga tenda dan para pengungsi.

Ajak mereka merapat lalu janganlah tampakkan sikap keceriaan yang berlebih. Karena kita tahu, kondisi pengungsi sedang terpuruk. Lalu tidak posisikan diri sebagai superior. Agar tidak tercipta kesenjangan. Jangan gunakan perhiasan yang mencolok karena bisa menimbulkan keirian bagi mereka yang mendiami tenda. Karena bisa jadi, harta yang tersisa dari mereka hanyalah pakaian yang melekat.

Sering juga kita melihat di media sosial adanya kiriman swafoto berlatar lokasi bencana. Lagi-lagi, dalih yang digunakan adalah untuk mengenang dan dokumentasi.

Namun yang disayangkan, orang-orang langsung begitu antusias dan buru-buru menyambangi lokasi sesaat setelah kejadian berlangsung. Jangan lakukan ini. Biarkan lingkungan sekitar pulih terlebih dahulu. Berikan waktu untuk tim yang berwenang untuk menangani dan mengurusnya. Karena kehadiran kita untuk berselfie ria dikhawatirkan justru menghambat proses evakuasi.

Contohnya, polisi akan kewalahan jika terlalu banyak massa yang berkerumun karena penasaran saat olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) berlangsung. Atas kesadaran sendiri, mendingan kita mundur dan persilakan tim untuk bekerja.

Jangan pula berfoto sumringah di bekas lokasi bencana. Misalnya di  depan rumah terdampak gempa dan tsunami. Di hadapan puing-puing yang tersisa, kita justru mengumbar senyum. Reruntuhan yang ditangisi oleh saudara kita, justru jadi sumber konten kebahagiaan kita. Sungguh paradoks. Bertentangan.

Makanya, libatkan empati saat hasrat selfie tak terbendung. Jangan sampai, terdengar lagi kabar tentang selfie yang kelewat batas. Eksistensi diri memang penting, tapi harus tahu penyaluran yang tepat. Bukan dengan memanfaatkan kemalangan nasib orang lain.

Ikuti Kami di Sosial Media:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *