Potensi Biofuel dari Ampas Kopi di Kota Banda Aceh

2 min read

Minum kopi kini sudah menjadi gaya hidup dan bukan sekedar minuman penghilang rasa kantuk. Ini tercermin dari menjamurnya kafe atau warung-warung penjual minuman dari seduhan bubuk kopi di seluruh nusantara. Kalau tidak ngopi sampai di Aceh maka hambar rasanya, kalimat tersebut merupakan prasa yang umum diungkapkan kepada siapapun yang berkunjung ke Provinsi Aceh, khususnya Banda Aceh. Hal ini dikarenakan budaya minum kopi tidak bisa lepas dari keseharian warga Aceh.

Warung kopi di kota Banda Aceh berkembang dengan berbagai macam varian seperti ada warung kopi yang menjadikan racikan kopi robusta sebagai khas warung kopi dan ada juga yang menjadikan racikan kopi arabika sebagai strategi penjualan untuk menarik pelanggan. Setiap warung kopi memiliki segmen pengunjung masing-masing sesuai selera dan kenyamannya. Warung kopi Aceh saat ini sudah menjadi daya Tarik wisatawan saat berkunjung ke Aceh dan menjadikan Aceh terus dikenal dengan kekhasan rasa kopinya.Begitu juga dengan jadwal kerjanya setiap warung, Ada yang membuka 24 jam ada juga sampai jam 12 malam.

Berdasarkan Pusat Data dan Sistem Informasi Pertanian Kementerian Pertanian konsumsi kopi nasional pada 2016 mencapai sekitar 250,000 ton dan tumbuh 10,54% menjadi 276,000 ton. Konsumsi kopi Indonesia sepanjang periode 2016-2021 diprediksi tumbuh rata-rata 8,22% per tahun. Pada 2021, pasokan kopi diprediksi mencapai 795,000 ton dengan konsumsi 370,000 ton, sehingga terjadi surplus 425,000 ton. Sekitar 94,5% produksi kopi di Indonesia dipasok dari pengusaha kopi perkebunan rakyat. Adapun 81,87% produksi kopi nasional merupakan jenis robusta yang berasal dari sentra kopi di Sumatera Selatan, Lampung, Bengkulu, Jawa Timur dan Jawa Tengah.

Bisnis warung kopi di Banda Aceh merupakan salah satu cabang bisnis yang menggiurkan, budaya minum kopi disambut dengan usaha jasa penyedia kopi (warung kopi) merupakan pertemuan antara demand and supply yang serasi. Namun ada sebuah potensi ekonomi yang besar yang sangat menjanjikan tersembunyi di balik bisnis warung kopi, yaitu sumber energi baru dan terbarukan dari ampas kopi yang belum dimanfaatkan.

Ampas kopi yang merupakan sisa padat seduhan kopi, selama ini lebih banyak merupakan limbah yang terbuang, hanya sebagian kecil saja yang dimanfaatkan sebagai bahan kompos. Seperti diketahui biji kopi beras (green beans) mengandung minyak/trigliserida, sehingga dalam ampas kopi sisa seduhan masih terkandung minyak yang cukup tinggi yaiu 11-20% dari berat kering secara spesifik menyatakan bahwa kandungan minyak pada ampas kopi arabika adalah 14-20% dan pada ampas kopi robusta adalah 11-16%. Kadar minyak pada ampas kopi tersebut hampir setara dengan kandungan minyak pada kedelai yang mempunyai kandungan minyak sebesar ±19.6%.

Ampas kopi juga mengandung asam khlorogenat (chlorogenic acid) sebanyak 478.9 mg/100 g, suatu senyawa yang merupakan gugus fenol yang mempunyai kemampuan sebagai antioksidan. Adanya kandungan asam khlorogenat tersebut dapat dimanfaatkan sebagai aditif antioksidan pada biosolar produk ampas kopi. Penambahan antioksidan dilakukan, mengingat biosolar berpotensi mengalami kerusakan akibat oksidasi, karena terbuat dari minyak nabati yang memiliki asam lemak tidak jenuh yang tinggi. Bahwa diprediksi pada tahun 2021 konsumsi kopi bubuk di Indonesia adalah 370,000 ton, apabila sebanyak 90% dari konsumsi kopi yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biosolar, maka akan terdapat produksi biosolar dari ampas kopi sebanyak 47,570.80-66,599.53 KL (kilo liter) per tahun.

Berdasarkan survey yang dilakukan periode minggu pertama Januari 2020, konsumsi kopi bubuk warung kopi di Banda Aceh untuk kopi Robusta rata-rata 15 kg per hari, sedangkan kopi Arabica 3 kg per hari. Dengan jumlah warung kopi yang terdata sebanyak 238 warung kopi di Banda Aceh (google map tagging), dapat dihitung bahwa konsumsi kopi bubuk di Banda Aceh adalah 1,563.66 ton per tahun atau setara dengan 0.42% proyeksi konsumsi nasional untuk tahun 2021, dimana akan terdapat produksi biosolar dari ampas kopi khusus Kota Banda Aceh sebanyak 201.04-281.47 KL (kilo liter) per tahun.

Walaupun nilai produksi dari ampas kopi ini kecil, tapi cukup membantu untuk mengurangi import solar Indonesia yang mencapai hampir 5 juta kilo liter pada periode Januari – Oktober 2019 untuk mencukupi kebutuhan 16 juta kilo liter per tahun solar nasional.

Di tengah kebutuhan energi yang semakin meningkat dan produksi BBM dari fosil yang semakin menurun, pemanfaatan ampas kopi sebagai bahan baku alternatif biosolar merupakan diversifikasi energi yang green energy dan ramah lingkungan. (oleh: Tito Eka Syafjanuar,
Ahmad Fauzi)

Ikuti Kami di Sosial Media:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *