Sampah Organik Sebagai Sumber Energi Terbarukan

2 min read

Pilih mana energi fosil atau energi terbarukan? Tentu kita tahu bahwasanya ketersediaan energi fosil semakin berkurang, khususnya minyak bumi. Dengan pesat nya laju pertumbuhan populasi penduduk Indonesia yang dan arus urbanisasi, diproyeksikan kebutuhan Indonesia akan energi bakal meningkat setiap tahunnya yang pada akhirnya akan meningkatkan jumlah bahan bakar yang digunakan. Tidak dapat di pungkiri, dunia sedang menghadapi realita bahwa krisis global akibat sedikitnya ketersediaan bahan baku fosil di masa mendatang akan tidak mampu lagi mengimbangi permintaan kebutuhan energi. Akibat eksplorasi dan komsumsi bahan bakar fosil yang berlebihan ini berdampak pada kecendrungan meningkatnya harga minyak dipasar dalam negeri dan ketidakstabilan harga minyak di pasar internasional.

Dalam konteks konsumsi energi berbahan bakar fosil (BBM) juga masih semakin mendominasi, diharapkan Indonesia mampu melakukan akselerasi dalam optimalisasi pemanfaatan energi terbarukan. Selain menjawab tantangan krisis global terhadap menipisnya cadangan energi fosil, penggunaan bahan bakar fosil juga memicu terjadinya perubahan iklim akibat pembakaran karbon yang sekian jutaan tahun tersimpan dalam perut bumi tersebut tiba-tiba dilepaskan dan menjadi polusi udara, dan penggunaan bahan bakar fosil ini akan terakumulasi bersama gas-gas rumah kaca lainnya yang dapat merusak keseimbangan komposisi udara di strafosfer sehingga memicu terjadinya pemanasan global yang akhirnya terimplikasi pada perubahan iklim, kenaikan permukaan air laut, pencairan es di kutub dan lain sebagainya. Jika hal ini tidak di antisipasi dengan tehknologi dan alternative yang berkelanjutan maka akan terjadi ketidakseimbangan system lingkungan di planet bumi mengingat daya tampung dan daya dukung di bumi ada batasnya dan harus di kelola dengan berkelanjutan.

Sangat di sayangkan teknologi energi baru dan terbarukan (EBT) belum secara utuh menjadi focal point dalam sector energi. Padahal geografis Indonesia sangatlah memungkinkan untuk mendapat nilai keuntungan (advantages) yang bisa mendorong kemandiran energi nasional. Dimana pasokan energi terbarukan tersebut akan menjamin ketersediaan untuk generasi mendatang seperti energi surya, energi air, energi angin, biofuel, biomass, biogas dan juga geothermal dari sumber panas bumi sendiri. Dewasa ini sumber energi baru terbarukan sedang digalakkan baik secara nasional dan internasional. Dari beberapa data masih terlihat dominasi penggunaan batubara, minyak bumi dan gas sebagai sumber energi. Indonesia menyimpan potensi biomassa yang begitu melimpah. Jika potensi ini dapat dimanfaatkan dengan maksimal maka akan memecahkan permasalahan energi yang terjadi selama ini, salah satu sumber biomassa yang mudah didapatkan dan berada disekitar kita adalah sampah.

Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) menyampaikan jumlah timbulan sampah secara nasional sebesar 175.000 ton per hari atau setara 64 juta ton per tahun jika menggunakan asumsi sampah yang dihasilkan setiap orang per hari sebesar 0,7 kg, dengan jenis sampah yang paling dominan dihasilkan di Indonesia adalah organik [sisa makanan dan sisa tumbuhan] sebesar 50%, plastik sebesar 15%, dan kertas sebesar 10%. Berdasar perhitungan Bappenas dalam buku infrastruktur Indonesia perkiraan timbunan sampah di Indonesia sebesar 22.5 juta ton dan akan meningkat lebih dari dua kali lipat pada tahun 2020 menjadi 53,7 juta ton. hal ini membuktikan bahwa potensi biomassa di Indonesia begitu melimpah.
Tenaga pembangkit listrik tentunya dapat di konvesrsi melalui sampah organik, seperti dari: kotoran hewan, tanaman hijau, limbah dari industri agro dan rumah pemotongan hewan menjadi biogas, dan sumber energi ini dapat dipakai untuk gas, lampu, kompor atau sebagai bahan bakar untuk mesin. Biogas terdiri dari metana 50-75%, 25-45% karbon dioksida, uap air 2-8% dan O2, N2, H2 NH3 H2S. Bandingkan ini dengan gas alam, yang berisi metana 80 sampai 90%. Isi energi gas tergantung pada kandungan metananya. Kandungan metana yang tinggi itulah yang ingin dihasilkan. Adanya kadar karbon dioksida dan air uap tentu tidak dapat dihindari, namun ni merupakan katagori EBT karena hanya membutuhkan waktu singkat dalam siklus nya dan juga terjadi proses penangkapan karbon dalam proses pertumbuhannya.

Ada dua cara untuk menjadikan biomassa sebagai bahan bakar untuk menghasilkan energi listrik, cara yang pertama adalah dengan membakar langsung biomassa padat sehingga boiler menghasilkan uap. Cara yang kedua adalah dengan melakukan fermentasi atau bisa juga disebut anaerobic disgestion yang nantinya akan menghasilkan biogas dengan kandungan metana (CH4) dan karbon dioksida (CO2). Melalui proses gasifikasi 4-8 kg biomassa diperkirakan dapat dimanfaatkan sebagai pengganti 1 liter bahan bakar minyak. Jika proses gasifikasi disambung dengan diesel generator 1,2 – 2 kg/jam biomassa diperkirakan dapat menghasilkan 1 KWh listrik. Produksi listrik dari biogas dapat menjadi metode yang sangat efisien untuk menghasilkan listrik dari sumber energi terbarukan. Namun, ini hanya berlaku jika panas yang muncul dari generator listrik dapat digunakan dengan cara yang ekonomis dan ramah lingkungan. Nilai kalor rata-rata biogas adalah sekitar 21-23,5 MJ / m³, yang berarti bahwa 1 m³ biogas sesuai dengan 0,5-0,6 solar atau kandungan energi sekitar 6 kWh (FNR, 2009). Namun, karena kerugian konversi, 1m³ biogas dapat dikonversi menjadi hanya sekitar 1,7 kWh listrik. Pemanfaatan ini bukan hanya dapat membantu masalah kelistrikan nasional namun secara tidak langsung juga dapat menyelamatkan lingkungan dari kerusakan yang diakibatkan oleh sampah-sampah yang tidak di kelola, khususnya sampah organik. (Cut Ervida Diana,Rahmah Masturah)

Ikuti Kami di Sosial Media:

Kebiasaan Swafoto yang Kelewat Batas

Indonesia masih berkabung karena baru saja kehilangan salah satu tokoh berpengaruh bagi negeri ini. B.J. Habibie berpulang lantaran gagal jantung yang menyerangnya. Faktor degenaratif...
Shela Kusumaningtyas
2 min read

Rasism(e)

Safutra Rantona
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *